Tuesday, May 1, 2007

kampung tengah

Barangkali, setelah pasukan "arek suroboyo" memblokir Jl Tembaan dan Tugu Pahlawan puluhan tahun lalu, cuma Bintoro yang punya semangat cukup besar untuk memblokir ulang jalan (yang menurut saya largest intersection di Surabaya) dan menghiasinya dengan busa sabun tanggal 6 Mei nanti. Trus, kalo ternyata jalan ini gak diblokir.. ya udah.. Di tengah-tengah hujan telpon, pos-l (pos elektronik alias e-mail), korespondensi dari EO, macam-macam invoice dari finance dan mbak Balgis yg manis, masih sempet2nya dia kirim MMS, "Kambing oven, roti maryam, didorong teh jahanam. Lidah bondan tidak berbohong." Gak sopaan!



Biar MMS-nya terkesan resmi, pake ngirim foto sesi penyuluhan segala. *halah* Lalu, supaya agak berbau berita, gue terpaksa nerima MMS yg gak hepi ini *keluh* Padahal maunya dapat gambar-gambar yg adem di mata kayak gini.




Akhirnya dapat juga "raw footage" acara "Jelang Malam" berikut. Gue gak tertarik sama komposisi foto yang kesannya kayak meja bar di pelem jadul "Hawaii Five O" (perhatikan brosur hotel bergambar pohon palem, rokok dan asbak gelas tebal). Gue malah tertarik banget dengan cangkir sopan di samping Heineken itu loh.. Apalagi ditimpa lagu latar "Bunga Terakhir" *wide evil grins*



Besoknya gue gak mau kalah. Sok ambil roll banner dan x-banner yg dipinjemin ke Kesra demi pameran CSR Indonesia di JHCC plus beresin web HWWS ke webmaster-nya menkokesra.go.id, gue bajak
Toni, Santoso dan Pri. Yang terakhir agak males, tapi agak dipaksa karena gue yakin dia sumber tempat makan enak secara dia doyan makan. Setelah mengarungi lautan mobil, ada rumah makan Padang yang nyempil namun dahsyat rasonyo. "I Shall Return," kata laki-laki yang lahir di Addis Abeba ini.


Ternyata, kudapan sore gue kalah jauh dibandingin menu RM Ayen Darmo Permai, Surabaya. Mana sok nawarin, "Doro gorenge, Dit.." (silakan burung daranya). Teganya teganya teganya..



Aryo dan Ali, konon ada sate kambing utk hardcore kambing fanatics di Solo? Yogya? Yang tusukan satenya dari jeruji sepedah! Kalo di Medan, gue pasti absen di dekat Toko Bata Jl. A. Yani. Di Aceh, berhubung ikan Lhoknga tak terbeli en ganti rasa, gue nasgor Jambo Tape ajah. Di Sby.. Karang Binaci Warung Lumayan di poros Surabaya-Probolinggo (kentara selera gue agak "Meduro").



Malang, buat gue cuman Sate Manis di Pasar Besar, soalnya dulu lebih sering makan di rumah ketimbang jajan. Bandung apa ya? Gue jus stroberi di depan FO Uptown aja. Soalnya Bakmi apa tuh, dahsyat tapi jauh. Sartob pasti paling tob (tau banget) soal Bandung. Kalo Serang? Sate Bandeeeng! (kayaknya duluuuu banget ada yang janji nih sama gue..)




-------------------------------------------------------------------------
Background noise: Paint in Black, Rolling Stones..

Image editing by:
Made with Paint.NET

Friday, April 27, 2007

abu ghraib di pejompongan



Ini Mbak Farah (kiri), Mas Rico (tengah) dan.. hmm.. kayaknya mereka ini kemaren lagi mengawal seorang tawanan dari Penjara Abu Ghraib di deket jalan medan merdeka.. Eh salah ya.. Penjara Abu Ghraib kan di Irak.. Keliatan ketawa-ketawa padahal senep abis!

Yang di bawah ini adalah wajah-wajah setelah lepas dari Abu Ghraib dan berakhir di pojokan Jalan Pejompongan.. Pasti tahu dong di mana itu.. "Kios Sate Djono" benar sekali! 3 porsi sate kambing, 2 tongseng, 1 sop, 1 majalah HerWorld dan entah apa lagi.. Langsung enak.. Tapi tetep.. ada segambreng telpon masuk!

highway to handwashing

Ini udah jam lima. Mbak-mbak lagi pada rapat di Kesra. Eh udah datang, ding.. Tadi setengah lima Biyan telpon sekretariat BHS di Kesra, nanya e-mail para pejabat departemen terkait. Buat kampanye web. Gue gak peduli tu orang buka e-mail atau kaga, yang penting kita ngirim.. Ternyata semua udah pada mau ngabur pulang karena udah jam setengah lima.. *ya olo* (ala Sar-Tob).

Jadi critanya gue lagi kirim update web ke pak bos yang kerja dari rumah dan cek panel buat pameran pas konferensi pers peluncuran acara heboh ini besok hari Sabtu.. Di komputer lagi ada lagu ini pas si Biyan masuk bawa faks ini:



Maksudnya?

Tadinya gue dan Toni gak ngerti, setelah kami mengamati baik-baik.. (lihat tulisan tangan "ukuran font disamakan") Intinya, nama pendamping RI 01 gak boleh ditulis dalam huruf yang ukurannya lebih besar dari mana pun.. Nama acara boleh sih lebih kinclong, tapi terbatas kali ye..


My current playlist..
Highway to Hell (AC/DC)
Paint in Black (Rolling Stones)
Jumpin Jack Flash (Rolling Stones)
Light My Fire (The Doors)
Help (The Beatlest)
I will Survive (Gloria Gaynor) --> nyang ini agak dipaksain..

Oh ya, udah tau belon si Bintoro terpeleset pas ngurusin acara heboh ini. Yang paling parah apa coba.. engsel Powerbook-nya patah.. mo nangis gak sehh..

Wednesday, February 28, 2007

goodies

roll banner ESP umumSetelah mencuri beberapa jam selama beberapa hari, beberapa minggu, di tengah-tengah badai deadline dan tuntutan macam-macam, serta godaan segala kebaikan dunia, dengan ini kami hantarkan (taela..) materi pameran untuk teman-teman di seluruh penjuru ESP.

Tak banyak yang bisa kami berikan, cukup ini dulu mengingat adanya sunatan anggaran..

Kredit disain grafis ada pada Santoso. Terima kasih!
Kredit kata-kata ada pada dokumen PMP yang kami muliakan.. he he..

Tiki akan menyapa teman-teman sekalian sekitar minggu depan. Semoga berkenan..

Tuesday, February 27, 2007

water, sanitation & hygiene: interventions and diarrhea

belum ada ide yang 'cemerlang' buat di-post kan berhubung pikiran masih di 'blog' sama utang penyelesaian tugas hasil dari menerima "segala kebaikan dunia....yang ada di Bandung itu'

ini ada materi bagus, terhitung baru dan cukup menarik, bisa jadi bekal buat MMC 7-9 yang terkait ke sanitasi dan air bersih, see link diatas lalu cari ke title diatas.

Monday, February 26, 2007

segala kebaikan dunia..

wajah kontras kolam renang biru aston dan sungai cokelat di belakangnyaCuma “Citi Trans” yang menata ruang penumpang dengan tempat duduk pribadi, tidak berbagi. Minggu lalu, kami bertujuh naik ke dalamnya. Mini bus dengan ketinggian setengah kali tinggi sedan itu loncat-loncat di sepanjang Cikampek-Cipularang. Tapi headphone dengan bantalan telinga empuk dan seribu lagu top forty membuai braga city walk sedang dandan menyambut imlekkhayalan. Artinya, kami tidur sepanjang jalan.

Di suatu keramaian di sudut Paris van Java, kami bersua segala kebaikan dunia. Perempuan manis putih cantik dan toko-toko yang didandani mirip bungkus kado. Bahwa tujuan utama kemari adalah bekerja dua hari dua malam, jelas kami sudah peram alias lupa.


sore hari di dekat jalan trunojoyoSore ini ke mana?
Hotel Aston dengan disain luar dalam minimalis tetap sulit berbaur dengan wajah jalan Braga yang kaya art deco dan hampir serba putih. Braga City Walk yang pintu masuknya berhadapan dengan sebuah restoran Jepang dan bersampingan dengan tempat minum, nyaris kosong meski sudah delapan bulan buka. Kata seorang penjaga pintu hotel, ada warung tengah malam yang konon enak. Tapi, jam sepuluh malam terlalu larut buat kami. Malam itu, seperti orang kampung, kami memilih menikmati ruang kamar yang lebih luas dari kamar kos sebagian orang.


Menyusun strategi..
Pagi-pagi sekali kami bangun dan mengenyangkan perut dengan bermacam panganan seharga sepuluh persen dari total uang jalan. Hari itu, kami membahas strategi kegiatan kantor. Konon, jadualnya sampai jam sembilan malam. Di tengah ikan bakar ala Padang dan sambal hijau kuah minyak, serta berkilo-kilo buah manggis dan jeruk, serta beraneka keripik, strategi disusun sampai jam dua pagi.


gerai pamer toko yuSegala kebaikan dunia..(Bagian 1)
Toko “Yu”, entah di jalan apa, adalah toko kelontong lama di Bandung. Sekarang halaman depan dan samping toko jadi semacam kafe. Daftar menunya tidak menawarkan keistimewaan apa pun. Kecuali ruang jual utama. Lukisan besar dan dua lampu gantung bulat setengah lingkaran menaungi etalase kaca tiga tingkat bergaya retro yang lebih “kayu jati style” (bukan “aluminium style”), dipenuhi wadah-wadah anyaman rotan bermuatan kue manis, candy bar, kue kering asin, nougat Suzanna dan gulali rakit sendiri.

air kata-kata merek bintangJam sepuluh malam, kami berubah jadi sekumpulan laron yang menyerbu pusat keriaan dunia, sebidang tanah sekian hektar di tepi bukit yang terang oleh lampu, warna-warni cat tembok dan kolase disain interior, dari kayu sampai besi. Cihampelas Walk seperti mengimpor Kuerfuerstendamm di Berlin atau Kemang Raya di Jakarta tanpa asap Kopaja 605. Barangkali, segala yang ada Kafe Bloemen di Ciwalk. Menyajikan menu negara Belanda
di Orchard Road juga hadir di kompleks rumah makan di jantung Bandung ini.

Malam hanya putus kalau kita hentikan di tengah jalan. Toyota Kijang tahun 90-an yang kami tumpangi berjalan terus dan terus mengejar nona-nona yang berdiri di sepanjang Braga. Hingga kami hilang arah di Pasir Kaliki. Alamak..
Supir taksi di sebuah rumah minum Centerpoint Ciwalk. Restoran bakso di atas, masakan ala fusion di bawah remang-remang dengan lampu persis rumah disko 80-an memberi petunjuk, “Terus, lalu kiri, lalu kanan, sampai ketemu patung Adjat Sudrajat, lalu kiri..” Seorang tak sampai menenggak satu pitcher air “kata-kata”, tapi setelah takometer berputar makin cepat, “Patung Adjat kayak apa sih?” Kami mencoba mengikuti petunjuk si supir taksi teladan, “Cepatan dong, gue kebelet, nih!” Pedal gas makin ditekan, “Mana patungnya?” Lantai paling atas Hotel Aston nampak di kejauhan, seperti halnya bulan yang juga nampak di kejauhan (tapi kami tak tahu cara sampai ke sana..)


Lagi-lagi strategi..
Hari ini kembali jadi hari strategi dan kajian. Sebagian menyelesaikan konsep materi jualan ide, sebagian berusaha mengerti nilai penting penjualan obligasi dan kelangsungan hidup sebuah perusahaan. Selain itu, kami juga berusaha memahami hubungan antara sumur-sumur di Jakarta yang kering kalau kemarau dan sejuta perak ongkos menanami kembali sehektar lahan gundul di pegunungan di hulu. Sore itu kami juga makin paham, bahwa sambungan baru air tak perlu lagi dibayar kontan..

Menggodok strategi di kantor


Segala kebaikan dunia.. (Bagian 2)
Di balik sungai Cicadas dengan warna air lebih gelap dari Kopi Aceh, ada banyak tempat belanja yang menarik di Jalan Riau. Model toko ini terkenal dengan sebutan factory outlet alias “eF-Oh”, karena konsep awalnya adalah menjual pakaian bermerek yang tidak lolos kendali mutu. Namun sekarang ini, sebagian besar toko “FO” tersebut hanya menjual label pakaian bermerek yang lolos kendali mutu dan tak sengaja disobek.

Billboard Kafe Dakken setelah ditusir“Aku mau tempat yang enak gitu, lho..” tandas seorang kawan. Yah, setelah 10 jam non stop kerja otak dan hari sebelumnya bekerja sekuat tenaga hingga jam dua pagi, kami mendambakan sofa empuk dengan udara dingin semilir. Asal tahu saja, kami bukan pegawai agen periklanan yang istilah kerennya ad agency, juga bukan kuli tinta Membahas target pekerjaan di kafe. Lebih kreatif! yang haus berita. Kami cuma pegawai yang haus segala kebaikan dunia!

Di depan sebuah toko buah dan distro kecil dengan diskon dua puluh persen serta dikepung oleh toko baju gaul (baca: FO) ada sebuah tempat makan dan minum bernama “Dakken”. Berwujud bangunan dengan gaya Eropa, tempat itu seperti Potato Gaufrette harga 10 ribu rumah nenek.

Kamar-kamarnya disulap jadi ruang duduk dengan sofa yang sedikit kurang lebar tapi empuk, dengan pernak-pernik kayu menarik. Di belakang, ada tempat makan al fresco alias beratapkan langit.

Kasihanilah kami, meski cukup puas dengan “potato gaufrette Jus alpukat saus cokelat. Menggemaskan! cocol salsa”, “nachos palsu dari kulit pangsit cocol saus kacang merah”, kopi durian, jus alpukat siram cokelat serta steik t-bone (pesanan seorang kawan jahanam yang cuma satu porsi untuk sendiri) kami tetap membicarakan cara-cara kreatif mencapai target pekerjaan..



“Pulang ke kotaku..”
Pulang identik dengan sekarung oleh-oleh untuk rekan-rekan di kantor. Biasanya, oleh-oleh digilir per hari. Ada kripik kentang dua kantong plastik besar, ada kue brownies lapis santan, dan entah apa lagi. Kawan-kawan lain membawa berbagai kantong belanja dari berbagai toko baju, untuk handai-taulan. Tidak ketinggalan berkotak-kotak pisang bolen dan entah kue apa lagi..

Stik USBStik USB kami padat oleh materi pekerjaan untuk ditindak lanjuti. Sebuah alasan untuk kembali ke.. laptop?