segala kebaikan dunia..
Cuma “Citi Trans” yang menata ruang penumpang dengan tempat duduk pribadi, tidak berbagi. Minggu lalu, kami bertujuh naik ke dalamnya. Mini bus dengan ketinggian setengah kali tinggi sedan itu loncat-loncat di sepanjang Cikampek-Cipularang. Tapi headphone dengan bantalan telinga empuk dan seribu lagu top forty membuai
khayalan. Artinya, kami tidur sepanjang jalan.
Di suatu keramaian di sudut Paris van Java, kami bersua segala kebaikan dunia. Perempuan manis putih cantik dan toko-toko yang didandani mirip bungkus kado. Bahwa tujuan utama kemari adalah bekerja dua hari dua malam, jelas kami sudah peram alias lupa.Sore ini ke mana?
Hotel Aston dengan disain luar dalam minimalis tetap sulit berbaur dengan wajah jalan Braga yang kaya art deco dan hampir serba putih. Braga City Walk yang pintu masuknya berhadapan dengan sebuah restoran Jepang dan bersampingan dengan tempat minum, nyaris kosong meski sudah delapan bulan buka. Kata seorang penjaga pintu hotel, ada warung tengah malam yang konon enak. Tapi, jam sepuluh malam terlalu larut buat kami. Malam itu, seperti orang kampung, kami memilih menikmati ruang kamar yang lebih luas dari kamar kos sebagian orang.
Menyusun strategi..
Pagi-pagi sekali kami bangun dan mengenyangkan perut dengan bermacam panganan seharga sepuluh persen dari total uang jalan. Hari itu, kami membahas strategi kegiatan kantor. Konon, jadualnya sampai jam sembilan malam. Di tengah ikan bakar ala Padang dan sambal hijau kuah minyak, serta berkilo-kilo buah manggis dan jeruk, serta beraneka keripik, strategi disusun sampai jam dua pagi.
Segala kebaikan dunia..(Bagian 1)
Toko “Yu”, entah di jalan apa, adalah toko kelontong lama di Bandung. Sekarang halaman depan dan samping toko jadi semacam kafe. Daftar menunya tidak menawarkan keistimewaan apa pun. Kecuali ruang jual utama. Lukisan besar dan dua lampu gantung bulat setengah lingkaran menaungi etalase kaca tiga tingkat bergaya retro yang lebih “kayu jati style” (bukan “aluminium style”), dipenuhi wadah-wadah anyaman rotan bermuatan kue manis, candy bar, kue kering asin, nougat Suzanna dan gulali rakit sendiri.Jam sepuluh malam, kami berubah jadi sekumpulan laron yang menyerbu pusat keriaan dunia, sebidang tanah sekian hektar di tepi bukit yang terang oleh lampu, warna-warni cat tembok dan kolase disain interior, dari kayu sampai besi. Cihampelas Walk seperti mengimpor Kuerfuerstendamm di Berlin atau Kemang Raya di Jakarta tanpa asap Kopaja 605. Barangkali, segala yang ada
di Orchard Road juga hadir di kompleks rumah makan di jantung Bandung ini.
Malam hanya putus kalau kita hentikan di tengah jalan. Toyota Kijang tahun 90-an yang kami tumpangi berjalan terus dan terus mengejar nona-nona yang berdiri di sepanjang Braga. Hingga kami hilang arah di Pasir Kaliki. Alamak..
Supir taksi di sebuah rumah minum remang-remang dengan lampu persis rumah disko 80-an memberi petunjuk, “Terus, lalu kiri, lalu kanan, sampai ketemu patung Adjat Sudrajat, lalu kiri..” Seorang tak sampai menenggak satu pitcher air “kata-kata”, tapi setelah takometer berputar makin cepat, “Patung Adjat kayak apa sih?” Kami mencoba mengikuti petunjuk si supir taksi teladan, “Cepatan dong, gue kebelet, nih!” Pedal gas makin ditekan, “Mana patungnya?” Lantai paling atas Hotel Aston nampak di kejauhan, seperti halnya bulan yang juga nampak di kejauhan (tapi kami tak tahu cara sampai ke sana..)
Lagi-lagi strategi..
Hari ini kembali jadi hari strategi dan kajian. Sebagian menyelesaikan konsep materi jualan ide, sebagian berusaha mengerti nilai penting penjualan obligasi dan kelangsungan hidup sebuah perusahaan. Selain itu, kami juga berusaha memahami hubungan antara sumur-sumur di Jakarta yang kering kalau kemarau dan sejuta perak ongkos menanami kembali sehektar lahan gundul di pegunungan di hulu. Sore itu kami juga makin paham, bahwa sambungan baru air tak perlu lagi dibayar kontan..
Segala kebaikan dunia.. (Bagian 2)
Di balik sungai Cicadas dengan warna air lebih gelap dari Kopi Aceh, ada banyak tempat belanja yang menarik di Jalan Riau. Model toko ini terkenal dengan sebutan factory outlet alias “eF-Oh”, karena konsep awalnya adalah menjual pakaian bermerek yang tidak lolos kendali mutu. Namun sekarang ini, sebagian besar toko “FO” tersebut hanya menjual label pakaian bermerek yang lolos kendali mutu dan tak sengaja disobek.“Aku mau tempat yang enak gitu, lho..” tandas seorang kawan. Yah, setelah 10 jam non stop kerja otak dan hari sebelumnya bekerja sekuat tenaga hingga jam dua pagi, kami mendambakan sofa empuk dengan udara dingin semilir. Asal tahu saja, kami bukan pegawai agen periklanan yang istilah kerennya ad agency, juga bukan kuli tinta
yang haus berita. Kami cuma pegawai yang haus segala kebaikan dunia!
Di depan sebuah toko buah dan distro kecil dengan diskon dua puluh persen serta dikepung oleh toko baju gaul (baca: FO) ada sebuah tempat makan dan minum bernama “Dakken”. Berwujud bangunan dengan gaya Eropa, tempat itu seperti rumah nenek.
Kamar-kamarnya disulap jadi ruang duduk dengan sofa yang sedikit kurang lebar tapi empuk, dengan pernak-pernik kayu menarik. Di belakang, ada tempat makan al fresco alias beratapkan langit.
Kasihanilah kami, meski cukup puas dengan “potato gaufrette cocol salsa”, “nachos palsu dari kulit pangsit cocol saus kacang merah”, kopi durian, jus alpukat siram cokelat serta steik t-bone (pesanan seorang kawan jahanam yang cuma satu porsi untuk sendiri) kami tetap membicarakan cara-cara kreatif mencapai target pekerjaan..
“Pulang ke kotaku..”
Pulang identik dengan sekarung oleh-oleh untuk rekan-rekan di kantor. Biasanya, oleh-oleh digilir per hari. Ada kripik kentang dua kantong plastik besar, ada kue brownies lapis santan, dan entah apa lagi. Kawan-kawan lain membawa berbagai kantong belanja dari berbagai toko baju, untuk handai-taulan. Tidak ketinggalan berkotak-kotak pisang bolen dan entah kue apa lagi..Stik USB kami padat oleh materi pekerjaan untuk ditindak lanjuti. Sebuah alasan untuk kembali ke.. laptop?
No comments:
Post a Comment